Sajak Anum Kepada Jebat
Jebat,
kutulis sajak ini dengan rindu yang sangat berat
dan ingatan kasih yang sarat
lebih hebat dari seisi Melaka dan Temasek diletakkan di jemalaku.
Telah bermusim kota itu kubuka
namun darahku masih basah di pelantar pertanda.
Ambillah harum darah ini
dan langirkan Taming Sarimu.
Sampai bila takkan bisa
kita membaca isyarat murup mega
dan bahasa sitara yang berkalih makna.
Rindu ini terlalu melukaiku.
Selamanya pijar suria ini menghanguskan ladang kita
selamanya ganas gelombang ini menghanyutkan rumah kita
tetapi akan tetap kita nyalakan ikrar cinta
dan menyempurnakan sepulau janji.
Ikrar jangan terbakar,
bagai api berahi itu yang membakarku,
janji jangan cair
bagai darah itu di hujung kerismu.
Resah ini lebih dahsyat dari amukmu.
Di atas kasur setia,
sekali lagi bersama
kita akan menderhaka!
Siti Raihani Mohamed Saaid
Mingguan Malaysia 13 Mei 2007

0 comments:
Post a Comment